Oleh: Desi Ummu Idris
Air mata di Gaza belum sempat reda, kabar penggusuran di Tepi Barat kembali datang. Sementara doa untuk Al-Aqsa masih dipanjatkan, kabar upaya perubahan statusnya juga terdengar. Di tengah seruan perdamaian yang terus digaungkan, langkah-langkah di lapangan justru berjalan ke arah sebaliknya. Dunia seolah terbiasa dengan berita duka dari Palestina, padahal setiap hari berarti satu keluarga kehilangan rumah, satu anak kehilangan masa depan.
Kepresidenan Palestina pada Rabu, 3 Juni 2026 menyampaikan keprihatinan mendalam atas persetujuan Israel membangun 2.162 unit rumah baru di Tepi Barat. Melalui kantor berita resmi WAFA seperti diberitakan _antaranews.com (5/6/2026)_, Palestina menyebut langkah itu pelanggaran nyata hukum internasional dan Resolusi DK PBB 2334 yang menyatakan semua permukiman di wilayah terjajah termasuk Yerusalem Timur adalah ilegal.
Israel dinilai bertanggung jawab atas dampak provokasi yang berpotensi memicu kekerasan baru, sementara Palestina mendesak AS segera intervensi jika benar menginginkan stabilitas kawasan. Semua itu adalah rangkaian sistematis demi mewujudkan satu ambisi besar: Israel Raya. Ambisi yang menunjukkan penjajahan tidak pernah berhenti, dan jeda gencatan senjata hanyalah waktu untuk menyusun langkah berikutnya. Ketika dunia sibuk dengan konferensi damai, di lapangan tanah Palestina terus menyusut.
Gaza: Antara Gencatan Senjata dan Serangan
Entitas zionis tidak pernah berhenti melakukan serangan ke Gaza meskipun perjanjian gencatan senjata telah disepakati pada Oktober 2025. Investigasi Al Jazeera Open Source Unit _3/6/2026_ mengungkap citra satelit hingga Mei 2026 menunjukkan 40 pos militer Israel tertanam di Gaza. 8 di antaranya dibangun dari nol setelah gencatan senjata berlaku, termasuk 1 basis di atas reruntuhan Pemakaman Timur Khan Younis. UNRWA melaporkan per 25 Mei 2026, 1,9 juta warga Gaza atau 90% populasi menjadi pengungsi internal, banyak yang terpaksa pindah 5-6 kali. Kondisi ini bukan kejadian sporadis, melainkan kebijakan sistematis untuk mengosongkan wilayah. Ini adalah tahap pertama dari ambisi yang lebih besar: menjadikan Gaza tidak berpenghuni.
Tujuannya bukan semata keamanan, melainkan pendudukan permanen. Data lembaga kemanusiaan mencatat ribuan warga Palestina menjadi korban di Gaza. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat setidaknya 929 warga tewas dan 2.811 luka sejak gencatan senjata resmi berlaku 7 bulan lalu. Angka itu terus bertambah setiap hari, sementara dunia menyaksikan dengan keprihatinan. Rumah sakit, sekolah, tempat ibadah pun tak luput dari kerusakan. Pola yang sama berulang: janji damai dilanggar, penderitaan kembali terjadi. Jeda gencatan senjata bagi penjajah hanya waktu untuk menyiapkan langkah berikutnya. Bagi warga Gaza, damai terasa seperti janji yang jauh.
Tepi Barat & Al-Aqsa: Ujian Berikutnya bagi Dunia
Perluasan pemukiman di Tepi Barat adalah tahap berikutnya dari ambisi yang sama. _detik.com (3/6/2026)_ memberitakan Dewan Perencanaan Tinggi entitas zionis menyetujui pembangunan 2.162 rumah permukiman baru di Tepi Barat. Kepresidenan Palestina menegaskan persetujuan itu tidak memiliki legitimasi dan berpotensi menyeret kawasan ke konflik yang lebih luas.
Upaya ini berdampak langsung pada kehidupan warga Palestina. Rumah dihancurkan, kebun zaitun yang sudah diwariskan turun-temurun dicabut, petani kehilangan mata pencaharian, warga dipaksa meninggalkan tempat tinggalnya. Semua dilakukan untuk mengokohkan peta wilayah dari Sungai Yordan hingga Laut Tengah. Jalan baru untuk pemukim dibangun, sementara jalan warga Palestina dibatasi.
Ratusan ribu pemukim kini tinggal di permukiman Tepi Barat termasuk Yerusalem Timur, sementara 3,3 juta warga Palestina berada di area yang sama menurut laporan PBB 2025. Kesenjangan itu menciptakan realitas apartheid di depan mata dunia. Setiap pembangunan baru adalah langkah yang menjauhkan Palestina dari haknya atas tanah sendiri.
Simbol yang paling memprihatinkan adalah upaya mengubah status dan pengaturan Masjid Al-Aqsa, kiblat pertama umat Islam. Upaya mengubah hak kelola tempat suci ini bukan sekadar urusan administratif. Itu bentuk pengikisan identitas dan sejarah di tempat yang disucikan. Jika status Al-Aqsa bisa diubah hari ini, maka tempat suci lain besok bisa jadi target. Kesucian Baitul Maqdis terancam di depan mata dunia.
Apa yang terjadi di Palestina adalah bentuk pelanggaran kemanusiaan. Rasulullah ﷺ mengingatkan:
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kasih sayang, cinta, dan kelembutan di antara mereka seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan demam dan tidak bisa tidur.” [H.R. Bukhari dan Muslim]
Namun luka itu terus dibiarkan berdarah. Penggusuran, penghancuran, dan penghinaan terhadap tempat suci dilakukan di depan umum. Semua itu tidak lepas dari dukungan kekuatan besar. Amerika Serikat menjadi pendukung utama ambisi tersebut. Dukungan politik, militer, ekonomi terus mengalir tanpa syarat. Bahkan AS mendorong penguasa negeri muslim menerima solusi dua negara. Solusi itu sejatinya melegitimasi keberadaan entitas zionis di atas tanah Palestina. Selama penjajah merasa aman karena ada “payung” dari negara adidaya, maka penderitaan Palestina tidak akan selesai.
Penderitaan Palestina berlarut karena dua persoalan besar. Pertama, lemahnya komitmen untuk menegakkan keadilan dan melindungi yang tertindas. Kedua, belum adanya kepedulian kolektif yang nyata. Sekat-sekat memecah membuat tiap negeri sibuk dengan urusannya sendiri. Palestina seolah berjuang sendirian menghadapi kekuatan besar yang disokong Barat. Padahal luka di Palestina adalah luka kemanusiaan bersama. Diamnya kita hari ini, bisa jadi giliran kita besok.
Allah mengingatkan manusia untuk selalu menegakkan keadilan:
> _إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ_
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan.” Q.S. An-Nahl: 90
Persatuan: Jalan Menghentikan Penderitaan
Ambisi penjajahan harus dihadapi dengan kekuatan bersama. Kekuatan itu lahir dari persatuan dan empati yang tulus, melampaui sekat-sekat yang memecah. Tidak ada lagi “urusan dalam negeri Palestina” karena penderitaan manusia di mana pun adalah tanggung jawab kita bersama. Ketika satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh akan merasakan.
Tugas utama setiap pemimpin adalah melindungi dan membela kaum tertindas. Tidak ada ruang kompromi atas tanah dan hak dasar manusia. Sejarah mencatat, saat Sultan Abdul Hamid II memimpin, Theodore Herzl gagal membeli sejengkal pun tanah Palestina. Itulah wibawa kepemimpinan yang menjaga kehormatan. Wibawa itu lahir karena ada rakyat yang berdiri di belakangnya.
Penjajah tidak akan berhenti dengan seruan saja. Penjajah akan mundur ketika menghadapi kekuatan yang lebih besar. Kekuatan itu hanya lahir dari persatuan dan kepedulian bersama. Maka menjadikan persatuan sebagai prioritas adalah langkah penting. Selama dunia masih terpecah, Al-Aqsa terus terancam, Gaza terus menderita, tanah Palestina terus diambil. Kita tidak bisa lagi hanya berdoa dari jauh. Doa harus diiringi ikhtiar nyata: menyuarakan kebenaran, mendidik generasi peduli kemanusiaan, menekan penguasa agar berpihak pada keadilan, dan menolak segala bentuk normalisasi penjajahan.
Setiap langkah kecil untuk menegakkan keadilan hari ini adalah investasi bagi masa depan. Semoga kepedulian kita menjadi jalan lahirnya kedamaian bagi Gaza, terjaganya Al-Aqsa, dan kembalinya senyum anak-anak Palestina.
Wallahu a’lam bishshawab












