Oleh: Anis Byarwati
(Anggota DPR RI – Fraksi PKS)
Nama Raden Ajeng Kartini senantiasa hadir dalam ingatan kolektif bangsa. Namun, lebih dari sekadar simbol perjuangan gender, Kartini adalah suara nurani yang mengingatkan bahwa kemajuan bangsa bertumpu pada pemuliaan manusia melalui pendidikan, akhlak, dan kualitas kehidupan.
Kartini hidup dalam kepungan keterbatasan. Akses pendidikan yang tertutup, ruang gerak yang terbelenggu adat, serta kesempatan yang lamat-lamat. Namun, dari ruang sempit pingitannya, lahir gagasan besar: bahwa setiap manusia memiliki hak untuk bertumbuh melalui ilmu dan kemuliaan budi. Dalam Habis Gelap Terbitlah Terang, ia menegaskan bahwa pendidikan adalah jalan utama membangun peradaban.
Pandangan ini selaras dengan firman Allah SWT:
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat” (QS. Al-Mujadilah: 11).
Bagi Kartini dan bagi kita, ilmu bukan sekadar kecerdasan kognitif, melainkan wasilah menuju kemuliaan derajat manusia.
Capaian dan Realitas Statistik
Hari ini, kita patut bersyukur atas perkembangan akses pendidikan di tanah air. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 menunjukkan Angka Partisipasi Sekolah (APS) usia 7–12 tahun telah mencapai lebih dari 99%, sementara usia 13–15 tahun berada di kisaran 95%. Bahkan, pada kelompok usia 16–18 tahun, partisipasi terus meningkat mendekati 80%. Ini adalah sinyal positif bahwa akses pendidikan dasar dan menengah kian merata.
Laporan World Bank dalam Indonesia Country Gender Assessment juga mencatat capaian paritas pendidikan. Anak laki-laki dan perempuan kini memiliki peluang setara di jenjang awal. Bahkan, angka partisipasi perempuan di perguruan tinggi menunjukkan tren yang melampaui laki-laki di beberapa wilayah.
Menjawab Tantangan Kualitas
Capaian kuantitatif tersebut adalah perwujudan nyata dari mimpi Kartini. Namun, pertanyaan fundamentalnya: apakah pendidikan tersebut telah menghadirkan kualitas dan kemanfaatan yang substantif?
Kemajuan tidak boleh hanya diukur dari angka. Data BPS juga mengungkapkan rata-rata lama sekolah perempuan masih berada di kisaran 8–9 tahun. Artinya, banyak perempuan yang belum menuntaskan pendidikan menengah. Selain itu, kesenjangan kualitas antara perkotaan dan perdesaan masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi kita semua.
Dalam perspektif yang lebih luas, kemajuan perempuan harus ditopang oleh empat pilar kualitas:
1. Integritas Keilmuan: Pendidikan yang membentuk karakter dan akhlak.
2. Ketahanan Keluarga: Peran perempuan sebagai madrasatul ula (pendidik pertama).
3. Kesehatan Ibu dan Anak: Fondasi utama kualitas generasi mendatang.
4. Kontribusi Sosial: Partisipasi aktif dalam memecahkan masalah masyarakat.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR. Ahmad). Ukuran kemuliaan adalah kemanfaatan. Di sinilah peran strategis perempuan diuji; bagaimana ia mampu menyeimbangkan peran domestik dan kontribusi publik demi kemaslahatan luas.
Menjaga Arah Peradaban
Relevansi Kartini hari ini bukan lagi soal “membuka pintu”, melainkan “menjaga arah”. Kemajuan tanpa nilai akan kehilangan makna, sementara nilai tanpa kemajuan akan membuat kita tertinggal. Allah SWT berfirman:
“Dan para perempuan mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut” (QS. Al-Baqarah: 228).
Ayat ini menekankan prinsip keseimbangan—sebuah panduan agar modernitas tidak mencerabut perempuan dari akar nilai dan tanggung jawabnya.
Penutup
Kartini bukan sekadar tokoh dalam buku sejarah, melainkan amanah peradaban yang harus dilanjutkan. Kemajuan bangsa tidak hanya diukur dari infrastruktur fisik, tetapi dari kualitas manusia dan nilai-nilai yang dijunjungnya.
Selama pendidikan terus dimuliakan, keluarga dikuatkan, dan nilai-nilai luhur dijaga, maka semangat Kartini akan tetap hidup sebagai cahaya yang menerangi perjalanan panjang peradaban Indonesia.












