Oleh: Astriani Lydia, S.S
(Narasumber Kajian Muslimah)
Video viral dugaan pungli Rp1,7 juta oleh oknum Dishub Kota Bekasi ke sopir truk kembali membuka borok lama. Lagi-lagi rakyat kecil yang jadi sasaran. Lagi-lagi aparat yang seharusnya mengayomi justru memeras.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi sudah merespons dan berkoordinasi dengan Wali Kota Bekasi Tri Adhianto untuk menjatuhkan sanksi tegas. Pemkot juga mengatakan akan melakukan evaluasi agar praktik serupa tidak terjadi.
Kasus semacam ini terlalu sering terjadi di negeri ini. Terlalu banyak “oknum nakal” dari pungli kelas teri di jalanan sampai suap miliaran di kantor. Polanya sama, ada celah, ada kesempatan, lalu ada yang memanfaatkan.
Mengapa demikian? Sesungguhnya sistem saat inilah yang melahirkan para pegawai negara di semua level memiliki orientasi bukan melayani, tetapi meraup keuntungan. Ketika jabatan dilihat sebagai komoditas, maka wajar kalau yang keluar adalah transaksi, bukan pengabdian.
Ditambah lagi, sekularisme yang memisahkan agama dari urusan negara membuat tidak terbentuknya ketakwaan komunal. Tidak ada rasa takut kepada sang Maha Pencipta yang akan menjadi rem kezaliman. Ditambah lagi tidak adanya amar ma’ruf nahi munkar yang hidup di tengah masyarakat. Yang ada justru pembiaran. Bahkan korupsi berjemaah dilakukan tanpa rasa malu, karena tolok ukurnya hanya untung-rugi dunia.
*Solusinya harus ke akar*
Menangkap satu dua oknum dan menyita uang pungli memang perlu. Tapi itu baru memotong ranting. Untuk menghilangkan keburukan harus sampai ke akarnya. Maka yang harus dilakukan:
1. Negara butuh pemimpin beriman, jujur, dan amanah. Keteladanan dari atas akan memaksa yang di bawah ikut lurus. Pemimpin yang takut akhirat tidak akan tega makan hak rakyatnya.
2. Penuhi kebutuhan dasar rakyat dan gaji layak bagi ASN. Kalau kebutuhan pokok terjamin, alasan “cari tambahan” jadi tidak relevan lagi.
3. Audit kekayaan berkala untuk semua aparat. Ada kenaikan harta tidak wajar, wajib buktikan asal-usulnya. Kalau tidak bisa, maka akan disita negara.
4. Sanksi tegas tanpa kompromi. Pungli itu mencuri hak rakyat. Disita hartanya, dipenjara, bahkan hukuman mati bisa jadi efek jera agar yang lain berpikir seribu kali untuk melakukan hal serupa.
Selama sistem yang ada masih menempatkan jabatan sebagai ladang bisnis dan agama hanya jadi urusan pribadi, maka video pungli seperti di Bekasi akan terus muncul dengan wajah dan lokasi berbeda.
Sudah saatnya negara hadir bukan hanya dengan kata dan janji, tapi dengan sistem yang benar-benar mencegah maksiat dalam kekuasaan. Dialah sistem Islam. Wallahu a’lam bishshawab












