Menu

Mode Gelap
Serap Aspirasi Masyarakat Hj. Nur Azizah Tamhid Gelar Diskusi Publik Hubungan Pusat Dan Daerah Camat Purwokerto Timur Targetkan Imunisasi 95 Persen Antisipasi KLB Polio cVDPV2 Solidaritas Seribu Pemuda Kota Bekasi Akan Hadiri Orasi Politik Caleg Afrizal dan Romi Bareno Pj Wali Kota Bekasi Klarifikasi Terkait Isu Netralitas ASN Partai Ummat Desak Bawaslu Serius Tangani Indikasi Ketidaknetralan ASN Kota Bekasi

Akademia · 29 Okt 2021 18:51 WIB ·

Tingkatkan Literasi Kesehatan Generasi Muda Good Doctor dan LSPR Luncurkan Serial Edukasi


 Tingkatkan Literasi Kesehatan Generasi Muda Good Doctor dan LSPR Luncurkan Serial Edukasi Perbesar

SILUMANEWS.COM, Jakarta, 29 Oktober 2021 – Hidup dalam kenormalan baru dimasa pandemi Covid-19, telah meningkatkan kesadaran tentang pentingnya mengambil langkah preventif dalam penatalaksanaan kesehatan yang menyeluruh. Salah satu caranya adalah dengan menjaga kesehatan mental dan fisik sebagai aspek penting dalam kesehatan seseorang, dimana intervensi kesehatan sejak dini akan membantu masyarakat Indonesia sadar dan peduli terhadap kondisi kesehatannya secara umum.Untuk memperjuangkan pentingnya tatalaksana kesehatan yang menyeluruh, Good Doctor Technology Indonesia (GDTI) berkolaborasi dengan The London School of Public Relations (LSPR) Communication & Business Institute meluncurkan program edukasi “Good Knowledge, Good Health” atau “Pengetahuan yang Baik, Kesehatan yang Baik” untuk meningkatkan literasi kesehatan dan menanamkan kebiasaan hidup sehat bagi generasi muda di Indonesia.

Kolaborasi edukasi kesehatan ini berlangsung selama 6 bulan, sejak September 2021 hingga Februari 2022. Program ini mencakup seminar daring tematik yang didisain untuk menciptakan diskusi seputar topik kesehatan yang relevan bagi masyarakat. Topik-topik kesehatan dihadirkan setiap bulannya, seperti pentingnya deteksi dini dari penyakit kronis seperti diabetes, tips sebelum dan sesudah mendapatkan, vaksinasi COVID-19, kesehatan mental, pengaturan makan sehat untuk mendukung sistem imun tubuh dan lain-lain.

Hadir dalam seremoni penandatanganan kerja sama, Direktur Promosi dan Pemberdayaan Kesehatan Masyarakat, Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr. Imran Agus Nurali, Sp.KO menyampaikan apresiasi atas komitmen bersama Good Doctor dan LSPR untuk mempelopori inisiatif penyebaran informasi kesehatan dan mengadvokasi pentingnya membentuk pemikiran generasi muda melalui program edukasi kesehatan.

“Dengan banyaknya informasi kesehatan yang beredar di media tradisional maupun sosial, kami menyadari ancaman beredarnya penyebaran informasi kesehatan yang kurang tepat yang dapat membingungkan masyarakat terutama di masa pandemi Covid-19 ini,” ujarnya.

Managing Director Good Doctor, Danu Wicaksana mengatakan, “Dengan lebih dari setengah pengikut media sosial kami dari kelompok usia milenial, kami menyadari pentingnya pemberdayaan kaum muda dengan menyerahkan tanggung jawab kesehatan ke tangan masing-masing dan menutup kesenjangan akses melalui teknologi digital.

Dengan bermitra dengan LSPR, semakin banyak kaum muda yang dapat mengakses aplikasi kami dan bersama-sama, kami berkomitmen untuk menyediakan informasi kesehatan yang terpercaya yang dapat meningkatkan literasi digital dan memperkuat pemikiran dari kaum muda. Pemberdayaan kaum muda akan mendorong mereka untuk membuat keputusan yang lebih tepat tentang kesehatan mereka untuk jangka panjang.”

Dr. Andre Ikhsano, Rektor LSPR Communication & Business Institute menyebutkan LSPR juga memiliki semangat yang sama. “Kami sadar betul kesehatan adalah investasi penting untuk negara. Karena itu sebagai institusi pendidikan kami harus terlibat aktif dalam meningkatkan literasi kesehatan generasi muda. Kolaborasi ini adalah salah satu cara efektif untuk mewujudkannya.” jelasnya.

Di bulan Oktober ini bertepatan dengan Bulan Kesadaran Kesehatan Mental Sedunia, topik webinar yang diangkat adalah “Kesehatan Mental untuk Semua: Mari Kita Wujudkan!”, yang diakui oleh Kementerian Kesehatan sebagai topik kesehatan yang penting untuk disampaikan kepada kaum muda, terkait meningkatnya prevalensi masalah kesehatan mental terutama di masa pandemi ini. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan adanya lebih dari 19 juta penduduk berusia di atas 15 tahun mengalami masalah mental emosional dan lebih dari 12 juta penduduk berusia di atas 15 tahun mengalami depresi. Saat ini, prevalensinya di Indonesia meningkat tajam, yaitu 1 dari 5 orang atau 20 persen dari populasi berisiko mengalami masalah kesehatan mental. Artinya masalah kesehatan mental bisa terjadi pada siapa saja, termasuk anak muda.

Menurut Jenyffer, M.Psi, Psikolog Klinis, situasi pandemi Covid-19 membuat milenial sangat rentan mengalami gangguan kesehatan mental seperti depresi dan ansietas. Situasi pandemi membuat mereka sering kali merasa diabaikan, terbatasnya ruang untuk mengekspresikan diri dan bersosialisasi.

“Adapun yang dapat dilakukan anak muda agar kuat mental selama pandemi menurut Jennyfer adalah: melihat rasa cemas sebagai alat bantu untuk mengambil tindakan agar tetap bisa berkembang dalam situasi sulit, temukan cara baru untuk berinteraksi dengan teman, fokus pada diri sendiri agar bisa menemukan cara produktif untuk bertahan di masa pandemi,” jelasnya.

Dengan berkembangnya layanan kesehatan mental di Indonesia, banyak yang masih perlu dilakukan untuk menurunkan stigma yang diasosiasikan dengan kesehatan mental dan mendorong diskusi tentang kesehatan mental. Dari sekitar 10 ribu puskesmas di Indonesia, baru 60 persen puskemas yang memberikan layanan kesehatan mental.

Dari sisi tenaga profesional yang menangani kesehatan mental, Indonesia juga masih kekurangan. Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK) menyebutkan jumlah psikolog klinis yang tersebar di Indonesia saat ini hanya sebanyak 2.782 orang. Artinya, hanya ada 1 psikolog untuk 90 ribu orang di Indonesia, sementara standar yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adalah 1 tenaga psikolog melayani 30 ribu orang. Sebanyak 70 persen berada di pulau Jawa, 20 persen terkonsentrasi di Jakarta.

Sedangkan sampai hari ini jumlah psikiater untuk pelayanan kesehatan jiwa hanya mempunyai 1.053 orang. Artinya, satu psikiater melayani sekitar 250 ribu penduduk.

“Maka telemedis juga menjadi solusi atas keterbatasan penanganan kesehatan mental di Indonesia. Terutama untuk milenial yang akrab dengan dunia digital, akses pengobatan kesehatan mental jadi lebih riil dan terjangkau,” papar Jennyfer yang juga dikenal sebagai content creator dalam bidang psikologi di Instagram @jen.psikolog.

Telemedis: Tingkatkan Akses untuk Menghapus Stigma Kesehatan Mental

Dalam aplikasi kesehatan digital Good Doctor, tersedia layanan telekonsultasi psikolog sejak April 2020. dr. Adhiatma Gunawan, Head of Medical Management GoodDoctor menjelaskan, “Dengan adanya fitur telemedicine atau konsultasi online membuat milenial bisa mengakses pengobatan kesehatan mental dengan lebih mudah. “Kebanyakan anak muda tidak nyaman menceritakan masalah emosional dan mental mereka kepada orang tua karena adanya stigma, maka telemedis menjadi solusi terbaik bagi milenial untuk berkonsultasi dengan psikiater atau psikolog tanpa takut dicap negatif. Dengan berbicara kepada tenaga kesehatan professional, mereka akan mendapatkan bimbingan untuk mengatasi kondisi mereka dibandingkan dengan mengandalkan pada informasi generik yang didapatkan secara daring yang dapat mengarah ke swadiagnosis yang berbahaya. Di masa peningkatan kasus Covid-19 di antara bulan Mei dan Agustus, kami mencatat peningkatan jumlah konsultasi harian terkait kesehatan mental hingga 80 persen, yang menjadi indikator bahwa semakin banyak kaum milenial yang mau berbicara terbuka tentang kondisi kesehatan mental yang dihadapi.”

Episode pertama serial edukasi kesehatan ini mengangkat topik “Kiat hidup sehat sebelum dan sesudah vaksinasi” yang menyanggah mitos dan kesalahpahaman tentang vaksin. Masyarakat masih bisa mengikuti beberapa topik seminar daring kolaborasi GDTI dan LSPR #GoodKnowledgeGoodHealth yang akan digelar di bulan-bulan mendatang melalui akun instagram Good Doctor @gooddoctorid. (*)

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Penulis

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Baca Lainnya

Duet Mohamad Nuh dan Dani Ramdan Potensi Menang Di Pilkada Bekasi 2024

11 Juni 2024 - 15:36 WIB

Darurat Kenakalan Remaja, Aktivis Mahasiswa Sebut Kota Bekasi Butuh Pemimpin Muda

7 Juni 2024 - 09:07 WIB

Bekasi Darurat Tawuran Pelajar, Praktisi Desak Bentuk Satgas Peduli Pendidikan

30 Mei 2024 - 17:20 WIB

Pemikiran Sang Eksil: Bedah Buku Alex Moenan di Kampus Unsoed

22 Mei 2024 - 16:28 WIB

Heri Koswara Minta Pemkot Bekasi Bergerak Tangani Serius Wabah Demam Berdarah Deungeu (DBD)

9 Mei 2024 - 19:17 WIB

Kerjasama Penelitian Buruh Migran FISIP UNSOED Berkolaborasi dengan FCSHD UNIMAS Serawak

7 Mei 2024 - 15:06 WIB

Trending di Akademia