Oleh: Neno Salsabillah
(Pemerhati Kebijakan Publik)
Identifikasi 15 jenazah korban kecelakaan tragis antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur bukan sekadar angka statistik. Peristiwa ini adalah duka mendalam yang menyisakan pertanyaan besar: sampai kapan nyawa publik menjadi taruhan di lintasan besi?
Kronologi dan Kegagalan Teknis
Insiden memilukan ini bermula dari tabrakan fatal di area Stasiun Bekasi Timur yang melibatkan kereta eksekutif dan kereta komuter. Dugaan sementara mengarah pada kegagalan koordinasi sistem persinyalan atau kesalahan manusia (human error) dalam pengaturan jalur ganda.
Secara teknis, tumpang tindih jadwal serta minimnya sensor otomatis yang andal pada titik-titik krusial disinyalir menjadi pemicu utama. Hal ini memungkinkan dua rangkaian kereta berada pada titik koordinat yang sama di waktu yang bersamaan—sebuah kondisi yang seharusnya dapat dicegah dalam sistem transportasi modern.
Rapuhnya Sistem Pengelolaan Saat Ini
Peran pemerintah dalam peristiwa ini tampak masih terjebak dalam pola reaktif—berbenah setelah nyawa melayang. Sistem transportasi seolah lebih menitikberatkan pada profitabilitas dan efisiensi birokrasi, alih-alih menjadikan keselamatan publik sebagai prioritas utama.
Fungsi pengelolaan urusan masyarakat oleh negara terasa belum optimal. Standar keamanan kerap dikalahkan oleh keterbatasan anggaran maupun lemahnya pemeliharaan infrastruktur. Pertanyaan mendasar pun muncul: apakah nyawa rakyat memang semurah itu?
Visi Islam: Keselamatan sebagai Amanah Tertinggi
Dalam perspektif Islam, kepemimpinan adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban, tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat. Sejarah mencatat bahwa ketika Islam memimpin, pembangunan infrastruktur dijalankan dengan standar tinggi dan tanggung jawab besar.
- Nyawa sebagai Prioritas: Dalam sistem Islam (Khilafah), menjaga satu nyawa manusia disetarakan dengan menjaga seluruh umat manusia.
- Negara sebagai Pelayan: Khalifah berperan sebagai ra’in (pengurus rakyat) yang bertanggung jawab menyediakan transportasi publik yang aman, mutakhir, dan terjangkau tanpa motif komersialisasi.
- Integrasi Teknologi dan Keimanan: Pembangunan dan pengelolaan sistem transportasi dilakukan dengan riset terbaik serta pengawasan ketat. Kelalaian yang mengakibatkan hilangnya nyawa dipandang sebagai dosa besar sekaligus kegagalan administratif yang serius.
Solusi: Perubahan Paradigma Kepemimpinan
Permasalahan transportasi tidak cukup diselesaikan dengan pergantian pejabat atau perbaikan teknis semata. Diperlukan perubahan paradigma dalam kepemimpinan dan pengelolaan negara.
Kembali pada sistem Islam secara kaffah dipandang sebagai solusi fundamental, dengan menempatkan negara sebagai pelindung utama keselamatan rakyat. Setiap kebijakan transportasi harus lahir dari semangat pengabdian kepada Tuhan, bukan sekadar mengejar target jangka pendek.
Saatnya kita berhenti memanen air mata di atas rel kereta. Negara harus hadir secara utuh—bukan sekadar menjadi penonton saat warganya teridentifikasi di ruang jenazah.
Wallahu a‘lam bishawab.












